| RFID Untuk Supply Chain Militer Brazil |
|
|
|
| Tuesday, 23 August 2011 11:15 | |||
|
Lebih dari setahun setelah peluncurannya, Program Adopsi RFID Angkatan Darat Brasil telah berhasil meningkatkan proses untuk menerima produk Kelas II, terdiri dari barang-barang seperti seragam, tenda, helm dan sepatu bot. Sistem ini disediakan dan dipasang oleh perusahaan Teknologi RFID, Seal technology , di Gudang Pasokan ke 21 Angkatan Darat, yang terletak di Sao Paulo, dengan bantuan dari GS1 Brasil, yang menyediakan nomor Electronic Product Code (EPC) dan layanan konsultasi.
Militer Brasil memulai program adopsi RFID pada tahun 2005, ketika Luiz Antônio Lopes Silveira, seorang profesor di Military Institute of Engineering, memimpin proyek pelacakan parasut Angkatan Darat menggunakan tag pasif EPC Gen 2 RFID. Dia telah mencari kesempatan untuk menguji kemampuan teknologi untuk meningkatkan visibilitas logistik bagi militer Brasil, dan memulai dengan tes yang melibatkan antara 3.000 dan 5.000 parasut (yang pada sebelumnya dilacak menggunakan abrcode ), untuk menentukan apakah tag dapat dibaca oleh interogator ketika parasut dipindahkan dalam pusat distribusi Angkatan Darat. Setelah memastikan bahwa teknologi bekerja dengan benar, Lopes dan Angkatan Darat mulai berencana untuk sebuah pengembangan penuh sistem RFID, lima tahun kemudian, hasilnya adalah sistem untuk melacak persediaan Kelas II militer.
Tantangan dalam kasus persediaan Kelas II, adalah untuk memantau peralatan tentara yang dikirimkan dari gudang Angkatan Darat ke para prajurit. Tujuannya adalah untuk membuat rantai pasokan seragam dan barang pribadi lebih terlihat, dan untuk mengotomatisasi proses pengambilan, pengiriman dan penerimaan , sehingga menghasilkan sedikit kesalahan yang lebih sedikit.
Portal RFID di gudang Angkatan Bersenjata Brazil
Barang-barang tiba di fasilitas distribusi Angkatan Darat langsung dari vendor, dan kemudian dikirim ke unit dan tentara di seluruh Brazil. Sebelum instalasi sistem RFID, personil Angkatan Darat menggunakan kertas dan pena untuk melacak lokasi secara manual setiap pengiriman dan status, dan kemudian menggunakan teklepon untuk memberikan update status kepada mereka yang mengirim atau menerima item.
Seal technology menginstal sistem yang dikenal dengan Control, Management and Tracking of Military Supplies di pusat logistik militer di Sao Paulo yang melayani 29 suplier dan memiliki omzet tahunan 170000 meter persegi pasokan (perputaran pasokan). Setiap gudang dalam pusat distribusi memiliki kapasitas untuk menyimpan 2.000 palet sarat dengan berbagai perlengkapan militer.
Software dari Seal Technology, diinstall pada sistem back-end Angkatan Darat, menyediakan dua fungsi. Satu untuk menyediakan aplikasi Web bagi pemasok untuk digunakan saat mengirimkan file elektronik yang menunjukkan bahwa item yang telah dipasangi tag telah dikirimkan. Yang lain adalah untuk mengendalikan reader yang berada di warehouse, yang menghubungkan nomor ID tag yang terbaca di fasilitas dengan file elektronik yang dikirim oleh vendor. Jika suatu anomali dideteksi, seperti kedatangan barang tak terduga, atau item hilang dari pengiriman, sistem menghasilkan peringatan yang dapat dikirim langsung ke petugas yang bertanggung jawab untuk logistik.
Angkatan Darat telah menguji berbagai konfigurasi reader dan antena, tapi akhirnya memilih untuk menggunakan portal yang dipasangi reader Intermec IF30 dan empat antena, dipasang pada kaki portal kiri dan kanan. Lebih dari 10 portal , masing-masing dilengkapi dengan total dua interogator dan delapan antena, dipasang di berbagai lokasi di seluruh fasilitas. Dengan membaca tag di setiap lokasi, Angkatan Darat dapat melacak ketika produk tiba dari vendor, serta kapan dan di mana mereka ditempatkan dalam penyimpanan, dan ketika mereka dikirim keluar. Informasi ini kemudian disimpan di software Seal Technology
Pasukan militer harus memiliki kemampuan untuk memobilisasi dan membangun kembali (memiliki akses ke pasokan yang diperlukan) dengan cepat dan komplit, dengan peralatan-peralatan yang diperlukan untuk menyelesaikan misinya. Jika pasukan bersiap-siap untuk mobilisasi, dan kemudian tertunda, tentunya akan merugikan kemampuan operasional, dan akan merugikan kekuatan tempur ini untuk mencapai misinya. Teknologi RFID telah terbukti membantu mempercepat proses tersebut.
Sumber: rfidjournal
|






